Teks Cerita Sejarah
A Day To Remember
Penulis : Salfina Siti Ramadhina
Kelas : XII Mipa 6
"Hari ini, segala dendamku pada para pengkhianat brengsek itu akan tertuntaskan." ucapku pada pantulan di dalam cermin itu.
Ku tatap lekat-lekat potret dua orang yang sama-sama sedang tersenyum ke arah kamera. Sakit rasanya jika harus mengingat mereka kembali. Rasanya tidak adil jika seluruh dunia tetap bergerak maju, sedangkan aku masih terjebak dalam ingatan 20 tahun silam.
Yah, Bu, gimana rasanya di surga?
Namaku Hadinathan Pratama, aku seorang yatim piatu. Aku benci jika menyadari aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kecuali Bi Kinan, yang telah bersukarela merawatku sejak hari pertama aku menyandang gelar sebagai 'yatim piatu'. Orang tuaku harus 'dipanggil paksa' oleh sekawanan orang yang mengaku dirinya sebagai islam. Cih, islam mana yang membunuh saudaranya sendiri?
"Nathan…"
Aku masih sibuk bergelut dengan pikiranku sendiri, sampai tidak sadar jika bi Kinan sudah berada di depanku dengan mata sendunya. Aku tahu betul arti mata sendu bi Kinan.
"Nathan…" Ia memanggilku dengan sangat halus, seperti biasanya.
"Bi, percaya sama Nathan, ya? Nathan janji, Nathan kuat. Kan Nathan juga udah nunggu hari ini dari lama." Ku tersenyum selebar mungkin, berusaha meyakinkan Bi Kinan.
"Bibi ikut, ya?"
"Bi … Nathan gak akan kemana-mana, kok. Nathan pergi sama Nanta. Nathan janji, Nathan gak akan lama-lama disana. Percaya sama Nathan, ya?"
Dengan tatapan yang masih sama sendunya seperti tadi, bi Kinan melepaskanku dengan ikhlas, katanya. Aku memeluk Bi Kinan dengan sangat erat, seperti sebuah pelukan untuk yang terakhir kalinya. Aku melepas pelukan itu, menyalami bi Kinan dan bergegas pergi ke Terminal bus menggunakan angkutan umum.
Setibanya di terminal, aku mencari sosok yang sudah sedari tadi terus menelponku tidak henti-hentinya. Aku tertawa saat netraku dan netranya secara tidak sengaja berpapasan. Ia kemudian mencubit perutku dengan sangat keras. Aku hanya bisa meringis sambil memohon ampun kepadanya agar melepaskan cubitannya itu.
"Ampunnnn Nann. Lepasinn, sakit tauu!" Sang empu kemudian melepaskan cubitan mautnya.
Namanya Ananta Aileen. Nanta panggilannya. Dia teman dekatku sejak aku berada di bangku sekolah menengah. Saat itu aku sedang berada di titik terendah hidupku. Masa-masa mencari jati diri dan mencoba bangkit dari kejadian kelam yang selalu membayang-bayangiku hingga saat ini. Nanta, si paling baik hatinya, begitulah panggilanku untuknya. Karena ia memang seperti itu, selalu ada untukku bagaimanapun keadaanku.
"Kita janjian dari jam berapa, ya?" Tanyanya ketus. Aku hanya tersenyum menyeringai. Nanta memang anak yang selalu tepat waktu, berbanding terbalik denganku. Aku segera menarik tangan Nanta untuk langsung menaiki bus travel yang sudah aku pesan kemarin.
"Kita mau kemana sih, Nath?"
Aku memang tidak memberitahu Nanta perihal maksud dan tujuan kami pergi hari ini. Aku ingin ia tau dengan sendirinya, nanti.
"Kepoo…" Ucapku sambil mengacak rambutnya.
"Nath ihh, serius dongg. Kalau kamu gak jawab aku turun nih."
"Coba aja turun"
"Ih tau ah nyebelin" Ia kemudian membalikkan badannya menghadap jalanan.
"Maaf Nan, aku gak bisa ngasih tau kamu sekarang…" Lirihku dalam hati.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, bus yang kami tumpangi menepi sebentar ke sebuah rest area. Saat hendak keluar dari bus, sekilas aku melihat seseorang yang amat ku kenali. Aku berusaha mengejarnya. Namun, nihil. Aku kehilangan jejaknya.
"Mungkin cuma halusinasi" Ucapku.
Selepas menunaikan sembahyang dan mengisi perut, kami kembali bergerak menuju lokasi tujuan kami. Nanta menceritakan banyak hal, mulai dari pekerjaannya, teman-temannya, hingga si moneng, kucing peliharaannya. Seketika aku melupakan rasa sesak yang sedari kemarin aku pendam sendiri.
Ananta Aileen merupakan satu diantara alasan mengapa aku harus tetap hidup, melihatnya dari hari ke hari merupakan anugerah terindah yang pernah kumiliki. Karena Nanta, aku kembali mempunyai harapan untuk sekedar melihat mentari dihari esok. Sama halnya seperti kemarin, langkahku sudah mantap untuk mengakhiri hidupku karena bayang-bayang itu terus merasukiku. Nanta lah yang pertama datang untuk memelukku dan membuatku merasa seperti kembali ke pelukan ibuku.
Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk berangkat menyaksikan peristiwa ini bersama Nanta, agar dia tau bagaimana kehidupanku yang seharusnya terjadi.
Akhirnya kami sampai di terminal tujuan kami. Kami selanjutnya diantar menyebrangi sungai menggunakan kapal boat. Deburan ombak mengalun lembut memasuki telingaku, bau asin garam yang khas membawaku kembali kepada ingatanku 20 tahun silam.
"Hahhh, kita beneran bakalan ke Bali, Yah?" Tanyanya dengan antusias tak sabar menanti jawaban dari sang ayah.
"Hmmm … jadi gak, ya? Coba tanya ibu deh" Balasnya.
"Bu, kita bakalan ke Bali kan, Bu?" Masih sama bersemangatnya seperti saat ia bertanya kepada ayahnya.
"Gak jadi deh, soalnya Nathan-" Belum selesai ibunya berbicara, Nathan kecil sudah dengan sigap mengecup pipi ibunya.
"Nah gitu dong, yuk kita ke Baliii" Seperti tidak pernah habis tenaganya, Nathan yang senang bukan main berlarian mengelilingi rumahnya.
"Kok ibu aja sih yang dicium, ayah gak akan dicium, nih?"
Nathan dengan cepat menggeleng seraya berkata "Ayah bau sih soalnya, wlee" Kemudian dengan sepersekian detik ayahnya mengejar Nathan. Ibu yang sedari tadi memasak hanya memperhatikan kedua jagoannya saling kejar-mengejar. Suatu sore yang hangat di Bandung, dimana semuanya masih terasa indah untuk menjadi gamang.
Mengunjungi Pulau Dewata merupakan satu diantara hal-hal yang selalu Nathan impikan. Nathan sangat menyukai hal-hal yang berbau laut. Bahkan, Nathan bercita-cita untuk menjadi seorang oseanografi.
Ayah dan ibunya selalu berusaha memberikan apapun yang Nathan inginkan. Semata-mata karena Nathan merupakan anak semata wayang mereka. Akan tetapi, hal tersebut tak membuat Nathan menjadi bertingkah seenaknya. Nathan juga selalu mengusahakan yang terbaik untuk kedua orang tuanya, seperti selalu menjadi juara kelas, menurut kepada kedua orang tuanya dan hal-hal lainnya yang memang sudah sepantasnya Nathan lakukan sebagai seorang anak.
“Kita berangkat tanggal 12 ya, Ayah akan urus penerbangannya dulu.” Ucap ayah sambil menyeruput teh buatan ibu. Kata ayah, teh buatan ibu paling juara dibanding teh-teh lainnya. Pernah pada suatu sore, aku dan ayah sedang menikmati aroma petrichor di balkon rumah lama kami di Bandung. Tiba-tiba ibu datang membawakan teh hangat dan beberapa bakwan. Tak lama, ibu kembali masuk ke dalam rumah karena tak mau terlewat serial televisi kesukaannya itu. Lalu ayah bertanya kepadaku.
“Nath, kamu tau gak kenapa ayah gak pernah sekalipun melewatkan teh buatan ibumu?” Aku menggeleng.
“Kenapa, Yah?” Tanyaku sembari menikmati bakwan buatan ibu.
“Soalnya ayah tau, kalau ibu buat teh itu pasti selalu enak,” Ia menyeruput kembali teh yang sesekali ia tiup untuk menghilangkan rasa panas dan menyebarkan semerbak aroma teh yang khas itu.
“Selain itu, ibumu punya resep rahasia yang paling luar biasa dahsyatnya.” Ayah meletakkan gelas yang kini sudah tandas tak bersisa itu di atas meja.
“Di dalam setiap lembar daun teh yang ibumu masukkan, terdapat cinta yang tulus. Di dalam setiap adukkannya, terdapat kasih sayang yang tidak pernah habis. Gini-gini ayah dulu pecandu kopi, lho, Nath,”
“Tapi, setelah ayah kenal ibumu secara tidak sengaja karena terjebak hujan bersama dan secara tidak sengaja pula mencicipi teh buatan ibumu. Ayah langsung jatuh cinta dan berhenti minum kopi sampai sekarang.” Ayah terkekeh, telinganya memerah.
“Nath … Nath … Haloooo Nathh” Seketika lamunanku buyar karena panggilan Nanta tadi. Aku mengusap kasar pelipisku. Ah, rupanya hanya wisata masa lalu yang tak akan pernah bisa ku kunjungi kembali.
“Nath … masih lama, ya?” Bertanya dengan wajah setengah mengantuk.
“Lumayan …” Jawabku singkat.
Nanta kemudian merebahkan kepalanya di pundakku. Tanpa menunggu lama, kini ia sudah tertidur pulas. Tanpa menunggu aba-aba, aku pun mengikuti jejak Nanta. Kami sama-sama tertidur agar bisa melupakan sejenak semua masalah kehidupan.
Nathan tidak bisa tidur malam ini, sebab esok ia akan berangkat ke Bali. Nathan merasakan perasaan senang berkali-kali lipat dari biasanya. Ia sudah menyiapkan segala macam perlengkapan pribadinya. Tadi pagi, ia sangat antusias menceritakan hal ini kepada teman-teman sekolahnya.
Dengan menempuh perjalanan udara selama satu jam lima puluh menit, Nathan dan keluarganya kini sudah berada di Bandara Ngurah Rai. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke daerah Kuta, tepatnya di Jalan Legian untuk mengunjungi penginapan yang mereka pesan.
Mereka beristirahat sejenak di penginapan sebelum akhirnya memutuskan untuk melihat sunset di Pantai Kuta. Di penginapan, Nathan sekamar dengan Bi Kinan. Nathan merasa tidak nyaman jika harus satu kamar dengan ayah ibunya karena Nathan merasa ia sudah besar.
“Anak ibu udah gede ya sekarang? gak mau lagi sekamar sama ibu,” Berbisik seraya memeluk Nathan.
“Iya dong, Bu! Nathan kan udah sepuluh tahun sekarang” Ucapnya penuh rasa bangga sambil membalas pelukan ibunya.
Sekitar pukul 18.00 WITA, ayah, ibu, dan Nathan bergegas untuk melihat sunset. Bi Kinan tidak ikut karena sedari tadi mengeluh pusing dan muntah-muntah. Maklum, ini kali pertama Bi Kinan bepergian menggunakan pesawat.
Kami menghabiskan sore ini dengan penuh suka cita. Deru ombak yang bergantian menghantam bibir pantai menciptakan alunan yang bersahutan, kulihat matahari perlahan pulang ke rumahnya untuk beristirahat karena sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Kini bulan menggantikan posisinya sebagai penghias semesta.
Pukul 19.30 WITA, kami menikmati seafood di pinggir Pantai Kuta. Ibu sangat suka dengan makanan laut, kami memesan hampir semua menu yang ada di sini. Secara tiba-tiba datang beberapa orang membawakan kue dan balon-balon. Aku dan ibu tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini, sampai akhirnya ayah mengambil alih kue yang semula dipegang oleh seorang lelaki yang ternyata merupakan pegawai di tempat makan ini.
“Selamat ulang tahun pernikahan, sayang” Ucap ayah kepada ibu. Kemudian ayah mencium kening ibu. Aku benar-benar tidak ingat kalau hari ini adalah hari jadi mereka. Ibu, seperti biasa, ia mudah menangis apabila mendapatkan perlakuan manis seperti ini.
“Mas .. mas … udah nyampe mas” Seorang awak kapal membangunkanku, dengan segera aku meregangkan badanku dan membangunkan Nanta. Kami menuruni kapal dan berpamitan.
“Nusa Kambangan, HAH? kita beneran di sini Nath? lo gila ya?! kesambet apa kita ada di sini …” Ucap Nanta sambil bergidik ngeri.
“Aku tau kamu butuh liburan, ya ngajaknya ke Nusa Penida lah bro, bukan Nusa Kambangan” Aku menarik tangan Nanta dan segera bergegas menemui seorang penjaga yang berjaga di sana.
Dengan pengawalan yang ketat, aku dan Nanta diantar ke sebuah ruangan yang selalu ingin aku musnahkan orang yang ada di dalamnya. Perasaanku campur aduk dan ingatan-ingatan itu terus berputar di kepalaku. Aku sempat merasakan sesak napas saat akan memasuki ruangan tersebut.
Aku dan Nanta dipersilahkan untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Tak lama, tiga orang berseragam oranye masuk dengan tangan terborgol dan masing-masing didampingi oleh aparat bersenjata.
Mereka adalah satu diantara orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kematian ayah dan ibuku di Jalan Legian, Kuta, Bali. Mereka ialah Amrozi, Ali Ghufron, dan Ali Imron. Mereka merupakan adik-kakak sekaligus dalang dibalik peristiwa bom Bali I. Tak sampai disitu, mereka kembali berulah pada peristiwa bom Bali II. Ali Imron, merupakan adik termuda di antara Amrozi dan Ali Ghufron. Ia yang pertama menyerahkan diri dan mengakui kesalahannya. Ia meminta maaf kepada seluruh keluarga korban, termasuk kepadaku. Namun, apakah permintaan maaf saja dapat mengembalikan kehidupanku? atau bahkan mengembalikan orang tuaku? Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Aku sempat bersikeras agar ketiganya dapat dihukum keras jika Amrozi dan Ali Ghufron sudah ditemukan. Akan tetapi, ada yang berbeda dari Ali Imron, ia terlihat benar-benar menyesal atas apa yang sudah ia lakukan dahulu. Ia berkata ia benar-benar tersesat saat itu. Aku melihat ketulusan di hatinya, ia juga berulang kali meminta maaf kepadaku di pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pada akhirnya, Ali Imron tidak mendapat hukuman mati, ia hanya mendapatkan hukuman seumur hidup.
Lantas bagaimana dengan Amrozi dan Ali Ghufron? Mereka baru tertangkap setelah buron bertahun-tahun. Hari ini merupakan hari eksekusi mati mereka. Lihatlah mereka berdua, masih sama angkuhnya seperti saat pertama kali ditangkap setelah buron. Aku semakin yakin jika mereka memang pantas mati.
Ada yang berbeda di pertemuan kali ini, ada Nanta di dalamnya. Nanta diam tak bergeming dan masih mencerna apa yang sedang terjadi di depannya ini.
“Bagaimana rasanya mengetahui ajalmu tak lama lagi, pembunuh? Aku tertawa miris. Entah sejak kapan aku memiliki keberanian seperti ini. Rasanya aku sudah mati rasa untuk merasakan sakit, mati rasa untuk merasakan sedih, bahkan mati rasa untuk merasakan kebahagiaan.
“Nyawa dibayar nyawa, kau tidak boleh kekal di dunia ini” Aku mencoba mengatur napasku
“Dan aku, aku akan menjadi saksi kematianmu. Sebagaimana dahulu aku juga menjadi saksi kematian kedua orang tuaku. Bedanya, mungkin kali ini aku akan tertawa puas, bukan menangis tersedu-sedu.”
“Atau mungkin, seharusnya aku kuliti saja? dan aku hancurkan kehidupan keluarganya? hahaha. Agar semua ini terasa adil. Sangat adil”
Lengang, hanya terdengar suara hembusan napas orang-orang yang ada di ruangan itu.
Sesudah menikmati berbagai macam hidangan seafood yang kami pesan tadi. Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu mengelilingi sekitaran Kuta. Hingga sampai akhirnya kami melewati sebuah diskotek yang sangat ramai pengunjungnya. Aku melihat beberapa orang dengan gerak-gerik mencurigakan. Aku merasa tidak nyaman, perasaanku tidak enak. Aku merengek kepada kedua orang tuaku untuk segera kembali ke penginapan. Namun, ibuku ingin mengunjungi sebuah toko kelontongan terlebih dahulu untuk membeli perlengkapan. Aku memandangi bulan yang melingkar di atas sana, seolah-olah bulan itu mengisyaratkan aku untuk segera kembali ke penginapan.
Aku memutuskan untuk kembali duluan ke penginapan. Awalnya aku tidak diperbolehkan untuk pergi ke penginapan sendirian. Tapi, aku meyakinkan mereka karena lokasinya tidak begitu jauh dari tempatku kini berada dan di sana ada Bi Kinan. Jadi, seharusnya mereka tidak usah khawatir, kan?
Aku berpamitan kepada ayah dan ibu, rasanya seperti tidak akan bertemu lagi dengan mereka. Aku melangkahkan kakiku dengan berat. Benar saja, malam itu merupakan pertemuan terakhirku dengan ayah dan ibu, karena sesampainya aku di penginapan. Aku mendengar suara ledakan yang sangat keras, bahkan aku sampai terpental. Semua orang berhamburan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Aku dan Bi Kinan berlari ke arah ledakan berasal. Baru saja melangkahkan kaki beberapa meter dari penginapan. Terdengar lagi suara ledakan yang sama hebatnya seperti sebelumnya, lokasinya tak jauh dari lokasi ledakan yang pertama.
Dengan sangat hati-hati aku dan Bi Kinan bergegas ke lokasi kejadian. Hatiku seperti tersayat-sayat ribuan belati tajam, aku mendapati sumber ledakan tersebut berasal dari diskotek yang kami lewati tadi. Ku melihat kepulan awan hitam memenuhi lokasi, puluhan orang meminta pertolongan. Aku dibawa paksa kembali ke penginapan oleh Bi Kinan sambil menangis.
“Bi … ayah sama ibu pasti pulang, kan?” Tanyaku sambil berusaha menahan tangis. Bi Kinan hanya memelukku, tidak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya.
Jam satu, jam dua, jam tiga … aku lelah menunggu ayah dan ibu yang tak kunjung pulang ke penginapan. Di luar sana, terdengar beberapa kali suara sirine melintas. Aku sangat ketakutan.
Sampai pada akhirnya, pihak kepolisian menghubungiku dan Bi Kinan. Kami di bawa ke sebuah rumah sakit. Kami diarahkan menuju ruang otopsi, aku tak bisa menahan badanku saat kain putih itu dibuka. Rasanya seluruh tulang-tulangku lepas dan sejak saat itu duniaku sudah hancur.
“Lantas, jika aku mati, apakah akan membuat kedua orang tuamu kembali hidup?” Satu pertanyaan dari Amrozi yang membuatku tersadar dari lamunan menyakitkan ini.
“Tidak. Tidak sama sekali. Namun, kamu tetap harus mati. Setidaknya dengan kematianmu, keluargamu akan hancur dan merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Sendirian, kehilangan segalanya.”
Kami dibawa ke tempat eksekusi berlangsung. Nanta perlahan paham tentang apa yang selalu menjadi penyebab mimpi burukku. Ia memilih untuk diam dan memegang tanganku. Sebelum eksekusi berlangsung, aku diberikan kesempatan untuk menyampaikan beberapa kalimat perpisahan kepada Amrozi dan Ali Ghufron.
“Ingatlah hari ini, semoga Tuhan tetap mengampuni kalian. Ingatlah hari ini, ingatlah kematianmu sendiri.”
Kemudian beberapa selongsong peluru mendarat tepat di badan mereka.
“Ketika nyawa harus dibayar oleh nyawa. Sampai jumpa, semoga Tuhan memaafkanmu”
Cerita nya keren banget! Keren salfina 👍👍👍👍
BalasHapusCeritanya baguss bangettt, mantap salee
BalasHapusCeritanya sangat bagus serta penggunaan kaidah kebahasaan seperti kata bermakna lampau, majas, dan kalimat langsung sudah sangat baik👍
BalasHapus